Dengan semakin populernya BIM di dunia konstruksi, maka menjadi salah satu tantangan juga bagi perguruan tinggi untuk mempersiapkan mahasiswanya agar siap terjun ke dunia kerja dengan pengetahuan BIM. Beberapa kali saya bertemu dengan mahasiswa yang mengatakan sudah mempelajari BIM di kampus, namun waktu ditanya sudah diajari apa saja, jawabannya adalah nama software. Seperti Revit, Navisworks, Tekla, dan sebagainya. Walaupun software adalah salah satu pendukung penting dalam mengimplementasikan BIM, namun mempelajari BIM bukanlah sekedar pelatihan software.
Ada dua hal yang perlu menjadi pertimbangan. Mahasiswa setelah lulus akan bekerja dengan peran yang berbeda, jadi pengenalan BIM juga disesuaikan dengan pendidikan yang diberikan:
- Sebagian besar akan menjadi seorang insinyur dalam proyek yang mengimplementasikan BIM (atau mungkin juga tidak). Artinya keahlian utamanya adalah perencana, pelaksana, atau pengawas, namun harus memahami dan mengikuti kaidah BIM dalam proyek.
- Sebagian lagi akan terlibat dengan BIM dari sisi strategi dan implementasi BIM. Artinya lebih ke sisi manajemen informasinya. Yang kedua ini belum perlu diberikan ditingkat sarjana, namun bisa mulai diperkenalkan kepada mahasiswa tingkat lanjut yang mendalami manajemen konstruksi.
Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, apa yang perlu diajarkan di level sarjana?

BIM di Universitas Bukan Pelatihan Software
Penting untuk memahami tujuan pembelajaran BIM di level sarjana. Lulusan S1 tidak ditargetkan menjadi BIM Manager. Target yang realistis adalah menyiapkan lulusan agar siap bekerja sebagai sarjana teknik sipil atau arsitek (atau jurusan lain yang relevan), namun memiliki literasi dan pemahaman BIM.
Artinya, fokus utama pendidikan BIM di kampus adalah:
- Memahami konsep BIM
- Menguasai dasar membuat model BIM
- Memahami workflow kolaborasi BIM
Dengan kata lain, perguruan tinggi bukan menyiapkan spesialis BIM. Tapi sarjana teknik yang melek BIM. Apakah pelatihan software dapat diberikan? Tentu saja. Namun tetap harus diingat bahwa software-software itu hanya sebatas alat bantu profesional dalam bekerja di bidang konstruksi.
1. BIM Awareness dan Mindset Digital Construction
Tahap pertama sebaiknya diberikan pada tahun-tahun awal melalui kuliah pengantar BIM. Materi pada tahap ini harus menjawab pertanyaan mendasar: mengapa BIM digunakan?
Topik yang direkomendasikan antara lain:
- Evolusi CAD menuju BIM dan Digital Twin
- Peran BIM dalam industri AEC
- Konsep BIM
- Pengenalan konsep ISO 19650
- Konsep Common Data Environment (CDE)
- Peran jabatan BIM menurut SKKNI
Pada tahap ini, penggunaan software bukan prioritas. Tujuan utamanya adalah membangun mindset bahwa BIM adalah proses manajemen informasi.
2. Pemodelan BIM dan Konsep Manajemen Informasi
Setelah memahami konsep, mahasiswa dapat mulai mempelajari BIM authoring. Tahap ini biasanya berlangsung pada semester menengah melalui mata kuliah studio atau praktikum.
Pemodelan BIM Dasar
- Pemodelan parametrik
- Perbedaan model dan gambar
- Data dan properti objek BIM
- Ekstraksi informasi dari model
Pada tahap ini mahasiswa diharapkan mampu membuat model sederhana dan menghasilkan gambar kerja dan informasi lainnya dari model tersebut.
BIM untuk Mahasiswa Manajemen Konstruksi
Bagi mahasiswa Teknik Sipil dengan pengkhususan Manajemen Konstruksi, BIM tingkat menengah sangat relevan, dan dapat diberikan dengan pendekatan berbeda. Fokusnya bukan pada pembuatan model detail, melainkan pada pemanfaatan model sebagai alat manajemen proyek. Mahasiswa perlu memahami bagaimana model BIM menjadi sumber informasi untuk quantity takeoff, perencanaan waktu, estimasi biaya, serta pengendalian proyek. Dengan pendekatan ini, mahasiswa tidak hanya memahami aspek teknis BIM, tetapi juga mampu menggunakan model sebagai alat koordinasi, perencanaan, dan pengambilan keputusan dalam proyek konstruksi.
3. Kolaborasi BIM
Tahap terakhir adalah bagian yang paling penting: kolaborasi BIM.
Dalam praktik industri, BIM tidak pernah dikerjakan oleh satu disiplin saja. Oleh karena itu, mahasiswa bisa diajak merasakan simulasi proyek kolaboratif sebelum lulus.
Akan sangat menarik jika kampus dapat mengakomodasi tim gabungan mahasiswa arsitektur dan teknik sipil yang mengerjakan proyek bangunan sederhana.
Materi yang dapat diberikan:
- Pemodelan mengikuti BIM Execution Plan (BEP) sederhana
- Pertukaran model antar disiplin
- Federated model untuk simulasi koordinasi proyek BIM
- Clash detection
- Kolaborasi dengan Common Data Environment (CDE)
Jika tidak memungkinkan dilakukan kolaborasi antar jurusan, dapat disimulasikan dalam satu jurusan yang diberikan role yang berbeda. Pengalaman ini dapat memberi gambaran nyata tentang bagaimana BIM digunakan di proyek.
Kompetensi Lulusan yang Diharapkan
Dengan pengenalan BIM tersebut, lulusan diharapkan memiliki kemampuan berikut:
- Memahami workflow BIM proyek
- Mampu membuat model disiplin dasar
- Mampu menghasilkan gambar kerja dari model
- Memahami kolaborasi BIM antar disiplin
- Siap bekerja sebagai BIM modeller junior
Kompetensi ini selaras dengan jabatan Juru Gambar BIM dan Modeler BIM Muda pada SKKNI BIM 2023. Sebagai pengingat, mayoritas lulusan sarjana tidak akan bekerja sebagai koordinator BIM atau manager BIM. Namun yang menjadi insinyur diharapkan mampu menerapkan pengetahuannya dalam proyek yang mengimplementasikan BIM.

Yang Belum Cocok Diberikan di Level Sarjana
Beberapa topik yang belum cocok untuk pendidikan sarjana adalah:
- Strategi implementasi BIM organisasi
- Manajemen BIM tingkat perusahaan
- Implementasi ISO 19650 secara mendalam
Topik tersebut dapat dipelajari setelah memiliki pengalaman proyek atau di pendidikan lanjutan.
Penutup
Mengajarkan BIM di universitas bukan tentang mengajarkan software terbaru. Fokus yang lebih tepat adalah membangun pemahaman proses, kolaborasi, dan workflow digital konstruksi.
Dengan pendekatan bertahap: pemahaman dan literasi BIM, pemodelan BIM, dan kolaborasi proyek, maka universitas dapat menghasilkan lulusan yang siap memasuki industri konstruksi digital dan selaras dengan standar nasional maupun internasional.