Pada awal tahun 2000-an, berpindah dari drafting 2D ke pemodelan 3D terasa seperti memiliki kekuatan super. Saat itu, nilai yang ditawarkan sangat sederhana. Model 3D membantu orang memahami desain dengan lebih baik. Mengurangi kesalahan gambar. Mempermudah koordinasi. Bersifat visual, praktis, dan langsung terasa manfaatnya. Teknologi ini menyelesaikan masalah nyata yang sehari-hari kita hadapi di meja gambar. Kita menggunakannya karena memang membantu kita merancang dan membangun dengan lebih baik.
Lalu keadaan mulai berubah
Seiring BIM semakin dikenal dan diterapkan secara luas, industri mulai mengembangkan berbagai framework, standar, klasifikasi, dan terminologi. Muncul BIM Dimensions. Muncul Level of Development (LOD). Muncul BIM Maturity Level. Ada BIM Execution Plan, Information Delivery Specification, dan entah berapa banyak lagi singkatan yang harus diingat. Terminologi yang semakin kompleks ini justru memunculkan gelombang kebingungan yang cukup besar.

Bukan berarti konsep-konsep tersebut buruk. Sebagian besar lahir dengan niat dan tujuan yang baik. Tujuannya adalah meningkatkan konsistensi, memperjelas ekspektasi, dan membantu organisasi mengadopsi BIM dalam skala yang lebih luas.
Namun di tengah perjalanan, sesuatu yang menarik terjadi. Fokus pembicaraan perlahan bergeser. Pertanyaan yang sebelumnya berbunyi, “Bagaimana kita bisa menggunakan BIM untuk menyelesaikan masalah di proyek?” berubah menjadi semacam krisis eksistensial: “Sebenarnya apa yang harus kita serahkan agar memenuhi persyaratan dari singkatan yang satu ini?”
Alih-alih berfokus pada hasil, banyak diskusi justru berputar di sekitar definisi. Perhatian secara perlahan bergeser dari nilai praktis sebuah model menjadi sekadar memastikan semua checklist sudah tercentang. Bagi banyak praktisi, BIM berubah menjadi sesuatu yang harus dipenuhi, bukan sesuatu yang membantu mereka bekerja.
Lalu datanglah era BIM Mandate
Pemerintah, pemilik proyek, dan berbagai organisasi di seluruh dunia mulai mewajibkan penggunaan BIM dalam proyek mereka. Sekali lagi, niatnya dapat dipahami. Kolaborasi yang lebih baik, pengelolaan informasi yang lebih baik, dan hasil proyek yang lebih baik adalah tujuan yang sulit untuk diperdebatkan.
Namun kewajiban tersebut menghadirkan tantangan baru. Banyak tim diminta menerapkan BIM sebelum benar-benar memahami seperti apa BIM dalam praktiknya. Akibatnya, banyak proyek berada dalam situasi yang cukup aneh. Tim diwajibkan untuk “melakukan BIM”, tetapi tidak ada kesepakatan universal mengenai seperti apa sebenarnya BIM yang sukses.
Dan karena BIM semakin identik dengan perangkat lunak pemodelan 3D, munculah persepsi yang sangat umum:
Kalau enggak 3D, berarti bukan BIM.
Persepsi itu masih ada hingga hari ini. Padahal banyak aktivitas proyek yang mendukung pengelolaan informasi, kolaborasi, koordinasi, dan pengambilan keputusan yang sebenarnya tidak selalu membutuhkan model 3D yang sangat detail.
Di beberapa proyek, model memberikan nilai yang luar biasa besar. Di proyek lainnya, model justru menjadi kewajiban yang mahal.
Ada proyek di mana tim membuat model dengan tingkat detail yang sangat tinggi hanya karena kontrak mengharuskannya, meskipun informasi tersebut pada akhirnya jarang digunakan oleh para pemangku kepentingan. Di sisi lain, ada juga proyek di mana alur kerja sederhana, spreadsheet, gambar kerja, dan rapat koordinasi mampu menyelesaikan masalah secara lebih efektif dibandingkan model yang semakin rumit.
Hal ini memunculkan pertanyaan: Apakah kita menggunakan BIM karena memang membantu, atau karena kita diharapkan untuk menggunakannya? Sebagai catatan, tulisan ini bukan argumen yang menentang BIM. Banyak keuntungan besar dalam industri konstruksi terjadi berkat teknologi dan workflow yang berkaitan dengan BIM.
Pertanyaannya adalah apakah industri ini terkadang mulai rancu dengan alat, standar, dan deliverables dengan tujuan awal BIM.
Bagaimana Menurut Anda?
- Apakah BIM semakin bermanfaat seiring waktu, atau justru semakin rumit?
- Apakah framework seperti LOD, BIM Dimensions, dan BIM Maturity Level menciptakan kejelasan, atau justru menambah kebingungan?
- Apakah sebuah proyek dapat dianggap berhasil dari sudut pandang BIM meskipun sangat sedikit bergantung pada pemodelan 3D?
- Dan yang paling penting, ketika kita berbicara tentang BIM hari ini, apakah kita masih membicarakan bagaimana BIM membantu kita bekerja lebih baik-atau sebenarnya kita sedang membicarakan sesuatu yang sama sekali berbeda?
Diskusinya tetap terbuka.